Dewan Penasihat Kadin, Hashim Djojohadikusumo, memperingatkan risiko nilai tukar rupiah turun tajam. Penurunan tersebut dapat memicu kenaikan harga barang impor, tekanan pada IHSG, dan beban biaya usaha bagi mitra warung MPIX.
Hashim Djojohadikusumo, anggota Dewan Penasihat Kamar Dagang dan Industri (Kadin), mengingatkan bahwa rupiah berisiko anjlok hingga Rp21.000 per dolar AS. Peringatan itu disampaikan dalam rangka menyoroti ketidakstabilan nilai tukar yang dapat dipicu oleh faktor eksternal, termasuk kebijakan moneter global dan aliran modal internasional.
Menurut Hashim, tekanan eksternal yang meliputi kebijakan suku bunga bank sentral utama dan defisit neraca berjalan dapat memperlemah posisi rupiah. Jika nilai tukar melemah secara signifikan, biaya impor barang—termasuk bahan baku makanan, minuman, dan kebutuhan pokok—akan naik, yang pada gilirannya dapat meningkatkan harga jual di warung‑warung kecil.
Kenaikan biaya impor biasanya menambah tekanan inflasi, sehingga indeks harga saham gabungan (IHSG) dapat mengalami volatilitas karena investor menyesuaikan ekspektasi laba perusahaan yang bergantung pada impor. Bagi mitra warung MPIX, beban biaya operasional dapat meningkat, memaksa penyesuaian margin atau penyesuaian harga jual kepada konsumen akhir.
Untuk mengurangi dampak, mitra warung disarankan memantau pergerakan nilai tukar secara rutin, mempertimbangkan diversifikasi pemasok lokal, dan mengoptimalkan stok barang yang sensitif terhadap nilai tukar. Investor dapat meninjau eksposur portofolio terhadap sektor yang sangat dipengaruhi oleh impor, namun keputusan tetap harus didasarkan pada analisis pribadi masing‑masing.
Peringatan ini bukan rekomendasi investasi, melainkan gambaran potensi risiko makroekonomi yang dapat memengaruhi biaya usaha dan harga barang di tingkat eceran. Memahami dinamika nilai tukar menjadi penting bagi semua pelaku usaha dalam menjaga kelangsungan bisnis di tengah ketidakpastian pasar global.