Bank Indonesia siapkan data transaksi QRIS sebagai acuan penilaian kredit, sementara DPR catat 56,2% UMKM belum digital; langkah ini memberi sinyal penting bagi warung MPStore untuk beralih ke platform digital.
Bank Indonesia (BI) tengah menyiapkan basis data transaksi QRIS sebagai referensi utama dalam menilai kelayakan kredit UMKM. Bagi pemilik warung MPStore, keberadaan data transaksi yang terintegrasi berarti bank dapat menilai profil risiko secara lebih akurat tanpa harus menunggu laporan keuangan tradisional.
MPStore menyediakan modul QRIS, Kasir, dan toko online yang secara otomatis merekam setiap penjualan. Data tersebut kemudian dapat diakses oleh lembaga keuangan melalui API MPStore, memperkuat rekam jejak digital warung dan meningkatkan peluang mendapatkan pinjaman dengan suku bunga kompetitif.
Komisi VII DPR RI melaporkan bahwa 56,2% UMKM belum terintegrasi dengan ekonomi digital per Oktober 2026. Angka ini menunjukkan masih besarnya pasar yang belum tersentuh, sekaligus membuka peluang bagi warung yang sudah digital untuk menarik lebih banyak pelanggan dan pemasok yang mengutamakan mitra yang terhubung secara online.
Untuk memulai digitalisasi, warung dapat mendaftar QRIS secara gratis, mengaktifkan aplikasi Kasir MPStore untuk pencatatan penjualan harian, dan membuka toko online di platform MPStore. Langkah-langkah tersebut tidak memerlukan investasi perangkat keras besar, cukup dengan smartphone dan koneksi internet.
Dengan data QRIS yang terpusat dan rekam jejak transaksi yang transparan, warung MPStore dapat mengajukan kredit ke bank atau lembaga pembiayaan lain dengan proses yang lebih cepat. Selain itu, digitalisasi memungkinkan pemantauan stok, analisis penjualan, dan promosi yang lebih tepat sasaran, meningkatkan profitabilitas usaha.
Catatan: informasi ini bersifat informatif dan bukan rekomendasi investasi. Setiap keputusan kredit tetap harus didasarkan pada evaluasi menyeluruh oleh pihak pemberi pinjaman.