Utusan Khusus Presiden Hashim Djojohadikusumo menyatakan Indonesia akan berada dalam kondisi lebih baik bila harga minyak dunia menurun, meski pasar energi masih bergejolak. Penurunan harga tersebut dapat menurunkan beban impor bahan bakar, menguatkan nilai tukar, dan menurunkan biaya usaha mitra warung.
Utusan Khusus Presiden, Hashim Djojohadikusumo, menegaskan bahwa Indonesia berada pada posisi yang "lebih terang" bila harga minyak dunia mengalami penurunan, meskipun pasar energi global masih menunjukkan volatilitas tinggi. Pernyataan tersebut disampaikan dalam konteks upaya pemerintah mengoptimalkan kebijakan energi untuk mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.
Harga minyak berperan penting bagi Indonesia karena negara ini masih menjadi importir bersih minyak. Penurunan harga minyak dunia berarti beban pembayaran impor bahan bakar berkurang, yang pada gilirannya dapat memperbaiki neraca perdagangan dan memberi tekanan positif pada nilai tukar rupiah. Rupiah yang lebih kuat dapat menurunkan biaya impor barang konsumsi, termasuk kebutuhan pokok yang dijual di warung‑warung kecil.
Di pasar modal, biaya energi yang lebih rendah biasanya meningkatkan margin keuntungan perusahaan, terutama di sektor transportasi, logistik, dan barang konsumen. Hal ini dapat mendorong kenaikan indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) karena investor menilai prospek laba yang lebih baik. Sebagai contoh, perusahaan yang bergantung pada bahan bakar untuk distribusi barang dapat mencatat laba bersih yang lebih tinggi.
Bagi mitra warung dan UMKM, penurunan harga bahan bakar berpotensi menurunkan biaya operasional seperti transportasi barang dan listrik. Penghematan tersebut dapat diteruskan ke konsumen dalam bentuk harga jual yang lebih kompetitif, sehingga meningkatkan daya beli pelanggan dan volume penjualan. Namun, manfaat ini tetap bergantung pada sejauh mana penurunan harga minyak dapat diteruskan melalui rantai pasok tanpa gangguan lain.
Meskipun prospek penurunan harga minyak memberikan sinyal positif, dinamika pasar energi dipengaruhi oleh faktor geopolitik, kebijakan produksi OPEC, dan permintaan global. Oleh karena itu, manfaat yang diharapkan bagi rupiah, IHSG, dan harga barang di warung tidak otomatis terjadi, melainkan memerlukan kondisi pasar yang stabil dan kebijakan pendukung dari pemerintah.