Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan tidak akan bertemu Presiden AS Donald Trump selama tekanan dan sanksi tetap, memicu kekhawatiran pasar energi global.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian kembali menolak pertemuan dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, menyatakan bahwa selama Gedung Putih masih mengancam Tehran dan melanjutkan sanksi, dialog tidak memungkinkan. Pernyataan itu dilaporkan oleh enam media, termasuk CNN Indonesia, SINDOnews, Detik News, Bloomberg Technoz, Antara News, dan iNews.
Ketegangan geopolitik antara Iran dan AS biasanya memicu kenaikan harga minyak mentah dunia karena pasar mengantisipasi gangguan pasokan. Pada minggu ini, harga Brent naik sekitar 2,5 % setelah pernyataan Iran, sementara harga minyak mentah Indonesia (minyak mentah Tapis) mengikuti jejak serupa. Kenaikan harga energi menambah beban impor bahan bakar, yang menjadi komponen utama defisit perdagangan Indonesia.
Dampak langsungnya terasa pada nilai tukar rupiah. Kenaikan harga minyak meningkatkan kebutuhan devisa untuk impor, menekan neraca perdagangan dan menguatkan arus keluar modal. Pada hari pengumuman, rupiah melemah 0,4 % terhadap dolar AS, dan indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 0,6 % karena investor menyesuaikan ekspektasi risiko.
Bagi mitra warung dan pelaku UMKM, kenaikan harga bahan bakar berpotensi menaikkan biaya transportasi barang, sehingga harga jual kebutuhan pokok di warung dapat naik 1‑2 % dalam beberapa minggu ke depan. Biaya operasional seperti listrik yang dipengaruhi oleh tarif energi juga dapat meningkat, menambah beban usaha kecil.
Investor MPIX dan pemilik usaha sebaiknya memantau pergerakan harga minyak dan nilai tukar secara berkala, serta menyiapkan strategi pengadaan bahan baku yang lebih fleksibel. Meskipun demikian, artikel ini tidak dimaksudkan sebagai rekomendasi investasi, melainkan sebagai informasi dampak eksternal terhadap pasar domestik.